Muntilan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Muntilan berada di jalur kereta api tua menuju Magelang yang sekarang sudah tidak berfungsi. Kota kecamatan ini berada pada jalur perjalanan wisata menuju Candi Borobudur dari Yogyakarta. Semula merupakan tempat kedudukan wedana, Muntilan merupakan kota perdagangan utama di lereng barat Gunung Merapi. Muntilan memiliki sejumlah pesantren yang memiliki keterkaitan dengan keraton di Surakarta maupun Yogyakarta. Salah satu yang paling terkemuka adalah pondok pesantren Watu Congol. Para Yesuit telah lama hadir di Muntilan. Terdapat sebuah seminari dan nekropolis yang banyak berisi peninggalan para anggota lamanya. Kardinal Julius Darmaatmadja, kardinal Gereja Katolik Roma dan Uskup Agung Jakarta saat ini, lahir di Muntilan. Selain itu di kota ini terdapat lembaga pendidikan yang dikelola oleh yayasan Katolik sejak zaman Belanda.Yang paling menonjol adalah Sekolah Guru (Kweekschool). Di samping itu juga ada beberapa sekolah dasar bagi anak-anak pribumi. Selain beberapa tokoh rohaniawan Katolik, lembaga pendidikan itu juga meluluskan sejumlah tokoh nasional seperti Frans Seda (mantan Menteri Keuangan), Simbolon (Kolonel), dan Sartono Kartodirdjo (sejarawan). Ketika Perang Dunia II, Muntilan menjadi letak sebuah kamp tahanan perang oleh tentara Jepang yang menggunakan kompleks sekolah Katolik disana. Mereka yang menghuni kamp internir ini terutama terdiri atas banyak keluarga Belanda.

Selasa, 26 Januari 2010

Gorengan Depan Klenteng Muntilan

Sebuah kota selayaknya memiliki nuansa yang khas dan berbeda dengan kota lainya, baik itu dari segi tatanan kota, suasana, cindera mata, maupun kuliner yang menjadi ciri ke-khasan sebuah kota, berbagai wilayah di indonesia tentu saja memliki berbagai macam rupa makanan khas yang berbeda-beda. salah satunya yaitu gorengan, mungkin tak asing dan terdengar umum karena gorengan ditemukan di hampir seluruh wilayah indonesia, namun ada satu yang khas di kota Muntilan, kabupaten magelang. lantas, apa bedanya dengan gorengan-gorengan di tempat lain?? memang sama, baik cita rasa maupun bahannya,namun yang agak berbeda yaitu penyajian, bentuk, dan suasana nya sehingga membuat gorengan muntilan sangat khas dan beda dengan gorengan di daerah lain. Salah satu warung gorengan di muntilan yaitu warung gorengan milih mbak weni yang terletak di depan klenteng muntilan, yang istimewanya lagi warung ini justru buka di tengah malam, sekitar pukul 00.00 - 05.00. Dengan menyajikan suasanya warung gorengan yang bernuansa lain justru menjadikan sebuah ciri khas yang unik dan tidak ada duanya selain di kota Muntilan. Alasan sang penjual kenapa warung ini buka malam hari, karena sang penjual membidik konsumen para orang yang kerja malam atau pun sekedar hobi nongkrong di malam hari, dimana warung lain tutup, justru warung ini buka, tak heran jika banyak yang nonkrong di warung gorengan mbak weni ini tiap malamnya,
harga yang ditawarkan untuk setiap menu gorenganya pun sangat terjangkau sekali. misal saja tempe goreng yang lebar bisa diperoleh dengan harga Rp. 700,- begitu juga dengan tahu isi atau "tahu susur" begitu orang muntilan menyebutnya juga dihargai Rp 700,-. Sedangkan sebagai pendamping dapat memesan segelas teh hangat Rp. 1000,- atau bisa juga memesan segelas cofemix dan kopi hitam dengan harga Rp. 1500,-. harga yang cukup murah bukan untuk sebuah jajanan yang khas yang tentusaja tidak ada duanya di kota lain. (junz-01-2010)





foto : jundab
Baca Selanjutnya...

Senin, 28 Desember 2009

Seorang Punker Yang Peduli Budaya

Tokoh - Sebuah fenomena langka dalam dunia jalanan, jalanan yang identik dengan tampilan punk yang apa adanya dan bernuansa cadas keras serta beringas, yang menjadi corak khas anak punk Jalanan, Langsung terbesit di pikiran kita bila bertemu seorang anak punk di jalan adalan kekerasan dan ketidak karuan hidup yang dijalaninya, namun berbeda dengan seorang pemuda punk berusia seperampat abat, yang pernah saya temui di daerah muntilan, seorang punker budayawan dan gemar akan kesenian jawa terlebih yang bernuansa tari dan musik, "Dhaliment" Seorang pemuda bergaya punk yang doyan nyanyi lagunya "Marjinal" namun dedikasi nya terhadap pelestarian budaya daerah tetap tinggi, komitmen untuk menjalankan terus adat asli tanah kelahiranya tak peduli cercaan dan kata-kata teman nya,

berawal dari sebuah kesenian tari "Rampag Grasak" dari sebuah desa kecil di ujung utara muntilan dia mampu mengembangkanya sampe ke luar daerah, Dhaliment yang hobi bermain musik ini tidak mau di katakan seniman " Saya bukanlah seorang seniman " begitu ucapnya ketika saya temui di sela-sela aktifitas nya, idealisme nya tinggi dalam menjalani hidup musik, tari, kesenian, nyani merupakan keseharianya. Seorang dhaliment tidak pernah mengharap uang sebagai imbalan tapi lolalitas terhadap Berseni merupakan komitmen utamanya.
"saya bermimpi untuk memasukkan unsur kesenian jawa dalam musik dan dunia punk jalanan" ujar seniman yang bisa memainkan segala jenis alas musik ini, Suatu konsep yang tidak main-main butuh tantangan untuk mewujudkanya.
Baca Selanjutnya...

Minggu, 13 Desember 2009

Kirab Budaya Gunungpring Semarak

Muntilan, CyberNews. Kirab Budaya Puroloyo Gunungpring yang digelar hari Minggu (13/12) berlangsung meriah. Ribuan penonton tampak memadati sepanjang jalan di depan Balai Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan.

Kirab Budaya Puroloyo ini digelar dalam rangka pencanangan Desa Gunungpring sebagai Desa Wisata dan Pendidikan Berbasis Nilai-nilai Budaya dan Religi. Acara ini dihadiri Dirjen Pemberdayaan Masyarakat Depbudpar Drs Bakri MM, Wakil Bupati Magelang Zaenal Arifin SH serta wakil Keraton Jogja.

Sedianya, Sri Sultan Hamengku Buwono X akan menghadiri kirab budaya ini. Namun karena sedang melakukan kunjungan kerja di Jerman, Sri Sultan kemudian mewakilkan kepada adiknya, Kanjeng Gusti Bendoro Pangeran Haryo (KGBPH) Gusti Joyo Kusumo.

Kirab budaya yang digelar setiap dua tahun sekali ini diawali dengan pemukulan Gending Munggang, kemudian dilanjutkan kirab panji-panji kirab bergodo seperti bergodo tumpeng, dan bergodo prajurit.

"Ada pasukan berkuda, pasukan pedang, pasukan tombak, pasukan pencak silat, kesenian tradisional, drump band dan sebagainya," kata Kepala Desa Gunungpring Iryanto.

Menurut Iryanto, selain sebagai peresmian Desa Gunungpring sebagai Desa Wisata, kirab budaya ini juga disinergikan dengan khaul tahunan alm KH Agus Jogoreso, dan Pangeran Raden Santri atau Pangeran Singosari.

Kirab budaya ini juga dimeriahkan dengan Festival Kuliner makanan tradisional. Festival ini dimaksudkan untuk mencari dan menemukan jajanan khas Gunungpring. Sejauh ini sudah ada dua jenis jajanan khas yang ada di Gunungpring yakni Jemunak dan Blendrang atau bubur dari tulang.
Baca Selanjutnya...

Fans kota muntilan

Komentar Terahir

Space Iklan disini

Iklan hubungi Admin